Monday , 20 November 2017
HAM HIGHLIGHT
Home / Testimonial / Marzuki Darusman (Eksekutif Direktur Human Rights Resource Centre (HRRC))
Marzuki Darusman (Eksekutif Direktur Human Rights Resource Centre (HRRC))

Marzuki Darusman (Eksekutif Direktur Human Rights Resource Centre (HRRC))

Tanggal : 9 April 2013 : 11.15

Ask : Bisnis dan HAM merupakan hal yang baru, sebenarnya apa yang melatarbelakangi HAM dan Bisnis dan Baseline Study mengenai hal tersebut ?

Ini suatu sidang yang baru, yang akan menjadi semakin penting karena bisnis sudah mulai menyadari bahwa mereka tidak bisa mengabaikan hak-hak asasi manusia karena kemajuan perusahaan sangat bergantung pada semangat kerja dari karyawan dan pekerjaan. Semakin dilindungi HAM mereka dalam bentuk hak kerja yang layak dan sebagai mereka juga mempunyai pengaruh positif pada produktivitas. Sehingga persaingan baru nanti di masa yang akan datang pada peningkatan perlindungan HAM karena akhirnya bisa dihitung. Jadi walaupun mungkin tidak dimotivasi untuk pertama kali oleh rasa kewajiban. Tetapi lebih dihubungkan dengan kalkulasi kemajuan perusahaan tapi hasil akhirnya adalah bahwa dua aspek ini akan menyatu nanti yaitu bahwa di dalam melaksanakan perusahaan menghormati HAM mempunyai manfaat tinggi sekaligus juga menjadi bagian dari rasa kewajiban dari perusahaan itu. Tapi ada segi formatif dan legal dalam hal melindungi HAM. Selama ini, dua hal ini terpisah. Jadi perusahaan terus menerus menitikberatkan pada efisiensi dan produktivitas, teknologi, disiplin kerja, dll. Dan sisi lain perlindungan HAM lebih dipelopori oleh masyarakat LSM, universitas. Di dalam persaingan baru dalam dunia ini produktivitas itu ternyata sangat ditentukan oleh kesejahteraan dari para pekerja, sehingga jika karena hanya untuk tetap bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain, suatu perusahaan itu menghormati HAM itu tidak apa-apa. Berarti pada akhirnya nanti, efisiensi perusahaan itu akan menyatu bersatu dengan idealisme perlindungan HAM dan pekerja itu yang internal dan eksternal perusahaan-perusahaan di dunia semakin banyak menghadapi tuntutan masyarakat berupa mengatasi dampak terhadap lingkungan, terhadap lingkungan di sekitar korporasi perusahaan berupa efek dari keadilan operasi perusahaan terhadap hubungan kemasyarakatan dari lingkungan sekitarnya yang bisa menimbulkan konflik karena perbedaan pendapatan antara mereka yang di perusahaan dengan mereka yang di luar. Melahirkan suatu bidang baru, yang bagaimana perusahaan bisa mengatasi konflik-konflik di masyarakat yang selama ini diserahkan kepada negara untuk diselesaikan secara hukum. Tetapi negara juga menghadapi keadaan ini juga tidak bisa sendiri mengatasinya, sehingga perusahaan juga mengambil peranan yang aktif untuk secara umm melindungi HAM dari lingkungan sekitarnya untuk mengatasi konflik-konflik yang timbul oleh karena operasi perusahaan itu. Jadi ada 2 dimensi (internal dan eksternal) dan inilah yang kemudian dirangkum dalam suatu pedoman prinsip-prinsip yang dilahirkan oleh PBB tahun 2011 yang disebut ’UN Guiding Principles’ (GP) mengenai Bisnis dan HAM. GP dalam proses disebarluaskan di seluruh dunia. Di Indonesia kita mengambil prakarsa untuk lebih mendalam GP dengan cara menterjemahkan perubahan-perubahan umum menjadi indikator-indikator yang bisa diukur. Ini yang sedang dilakukan oleh HRCC bersama suatu Badan Audit Mazars yang bekerjasama dengan LSM yang baru didirikan oleh perumus dari GP ”Prof. John Ragee” dari Harvard untuk melahirkan indikator-indikator internasional sehingga bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan menjadi pedoman mereka menyusun kebijakan internal dalam hal perlindungan HAM baik karyawan maupun masyarakat. Disitulah sekarang kita berada. Business Human Rights studies ini adalah suatu aktivitas sejajar dengan itu dalam melihat bagaimana kondisi di ASEAN tidak dalam rangka membandingkan suatu negara lain, tetapi merekam bagaimana keadaan yang sekarang berlaku dalam hal kebijakan-kebijakan pemerintah ASEAN untuk merumuskan menghubungkan antara bisnis dan Human Rights di negara ASEAN. Ini merupakan studi awal pangkal untuk kemudian diikuti oleh suatu studi baru yang lainnya yang secara empiris bisa ditingkatkan dengan menggunakan GP.