Adoh Manado so Tenggelam

Melihat foto-foto banjir yang menerjang Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (14/1) dan Rabu (15/1) membuat rasa penasaran saya membuncah.

Banjir bukan hal baru bagi warga kedua kota. Ketika tahun lalu Jakarta banjir, Manado pun demikian. Sepintas, karena saya tak pernah bisa lama singgah di Manado, permasalahan kedua kota ini sama. Ada persoalan iklim dan curah hujan yang tinggi, masalah anomali cuaca di lingkungan kedua kota, dan ada peran pemerintah kota yang tak becus mengantisipasi bencana lingkungan.

Tapi foto-foto dampak banjir yang dimuat di beberapa laman berita internet Kota Manado cukup mengejutkan. Sebagai rujukan, saya menengok dua laman berita Kota Manado, yaitu manadotoday.com, dan beritamanado.com. Ada beberapa foto yang bisa memperlihatkan seberapa tinggi dan dahsyat luapan air itu menerjang kota yang dijuluki Kota Tinutuan (bubur khas Manado) ini.

Dalam satu foto, si fotografer memotret dari kejauhan. Sekitar 500 meter di sebuah jalan yang memisahkan antar-rumah. Air berwarna cokelat sudah merendam rumah warga hingga ke batas bawah atapnya. Badan rumah tidak terlihat. Dasar rumah lenyap. Pagar pun tak nampak.

Di ujung foto, sebuah tiang papan penunjuk jalan berdiri tegak terendam. Bagian bawah papan dengan muka air hanya terpisah sekitar satu meter.

“Adoh Manado so tenggelam,” keluh satu warga korban banjir di Kelurahan Banjer, seperti dikutip dari laman beritamanado edisi Rabu lalu.

Wilayah ini termasuk yang paling parah terendam. Tinggi air mencapai dua sampai tiga meter. Arus air juga deras. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara pun menegaskan, bencana banjir dua hari kemarin adalah yang paling parah dalam dua puluh tahun terakhir Kota Manado.

Beberapa foto lainnya tak kalah mengejutkan. Ada satu yang diambil dari jalan raya. Di tengah foto, sebuah mobil terbalik di atas trotoar. Seolah mobil itu baru saja tabrakan. Padahal mobil tersebut terbawa air dan terguling. Bisa dibayangkan derasnya arus air yang bisa menggulingkan mobil tersebut. Di satu foto juga memperlihatkan satu angkutan kota berwarna biru masuk ke dalam garasi rumah. Posisinya juga terguling.

Yang cukup spektakuler adalah foto dua mobil bertumpukkan. Sebuah mobil minivan berwarna biru tua bagian belakangnya ‘nangkring’ di kaca depan mobil minivan berwarna abu-abu. Derasnya air bah bisa mengangkat mobil tersebut hingga menindih mobil lainnya. Foto lainnya adalah tumpukkan sampah kayu yang yang teronggok di depan satu kawasan.

Seolah ada ‘tsunami’ kecil menerjang kawasan itu, merangsek dan menyapu seluruh bangunan kayu hingga membiarkannya teronggok di tengah jalan.

Saya tinggal di wilayah yang akrab dengan banjir. Di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bisa dibilang, sejak kecil hingga sekarang saya sudah kenyang melihat dampak banjir. Banjir paling dahsyat yang melanda kawasan Kelapa Gading terjadi pada awal tahun 2007. Hujan deras dari hulu (Bogor) selama tiga hari, sungai yang meluap, drainase mampet, langsung membuat kawasan itu seperti ‘Venesia’ alias terendam di mana-mana. Tinggi air di depan rumah sudah 1,5 meter. Ini membuat satu-satunya transportasi ke dalam permukiman hanya bisa lewat perahut motor!

Saya mengingat, di satu siang ada empat orang berjalan pelan di tengah kolam air raksasa itu. Mereka seperti tengah mendorong sesuatu. “Lagi ngapain Pak?” teriak saya dari loteng. Satu dari mereka menjawab, “Ini, lagi ndorong mobil, Mas.” Mobil sedan itu tidak terlihat lagi atapnya. Mereka tetap mendorongnya sampai keluar komplek, sekitar 300 meter, untuk diparkir di tempat yang kering.

Namun melihat mobil bertumpuk di tepi jalan, atau mobil terguling akibat arus air, saya baru menyaksikannya di Manado. Yang paling parah kalau bisa membandingkan adalah tsunami Aceh. Ketika air bah menyeret apapun juga, bahkan sebuah kapal tanker hingga berlabuh di atas atap rumah.

Selalu ada faktor manusia dan faktor alam dalam setiap bencana banjir. Namun untuk dua kasus di Kota Manado dan Kota Jakarta, saya merasa faktor kelalaian manusia jauh lebih kental. Kita memang, terkadang, terlalu keras kepala untuk belajar dan membuat perubahan. Padahal alam sudah menegurnya berkali-kali.

Penulis :Stevy Maradona, Wartawan Republika.co.id

Post Author: operator.info1