Mari Peduli Anak Autis

MENINGKATNYA jumlah penderita gangguan autis di seluruh dunia, telah mendorong Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menunjukkan perhatian dan kepeduliannya, dengan menetapkan 2 April 1997 sebagai Hari Penyandang Autis Sedunia. Sejak saat itu, setiap 2 April –termasuk pada Rabu, 2 April 2014 kemarin– berbagai negara di dunia memperingati dan merayakannya dengan meningkatkan kepedulian dan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak penyandang autis.

Dalam satu survei yang dilakukan Florida Institute of Technology tercatat sebanyak dua per tiga orang tua muda mengkhawatirkan anaknya dapat terdiagnosis ASD (Austism Spectrum Disorder). Jumlah kasus autisme mengalami peningkatan yang signifikan, pada 2008 rasio anak autis 1 dari 100 anak sedangkan pada 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 dari 88 orang anak saat ini mengalami autisme. Menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, Diah Setia, diperkirakan terdapat 112.000 anak di Indonesia menyandang autisme, pada rentang usia sekitar 5-19 tahun. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak, yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Sehingga anak yang mengalami gangguan autis ini sering mengalami keterlambatan bicara, mimik muka datar, bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan meniru atau membeo pembicaraan orang lain. Dari sisi interaksi sosial, penderita autis menolak atau menghindar tatap muka, mengalami ketulian, menolak untuk dipeluk, tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang, bila didekati untuk bermain justru menjauh serta keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya.

Dari sisi perilaku dan bermain, anak-anak penderita autis seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton, bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain. Cara bermainnya juga aneh, sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, terlihat hiperaktif dan terkadang juga anak terlalu diam. Perasaan dan emosinya tidak punya atau kurang rasa empati, misalnya melihat anak lain menangis tidak merasa kasihan bahkan merasa terganggu. Tertawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab yang nyata. Sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan menjadi agresif dan destruktif.

Belum diketahui
Hingga saat ini, penyebab autis masih belum diketahui secara pasti namun dimungkinkan banyak faktor seperti genetik, faktor makanan, zat kimia, alergi makanan, kelebihan opioid atau juga infeksi karena virus. Dikarenakan belum diketahui secara pasti penyebab autis, sebaiknya orang tua atau pengasuh harus jeli dalam mengamati tumbuh kembang anak secara dini. Waspadai jika anak mengalami keterlambatan bicara, gangguan komunikasi atau interaksi sosial dan perilaku yang berulang-ulang. Seperti tidak ada kontak mata di atas umur 3 bulan, tidak mengoceh, kaku bila digendong dan tidak ditemukan senyum sosial.

Di beberapa negara seperti Amerika, Malaysia dan Singapura, penanganan anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autis, down sindrome, hyperaktif, tunanetra dan sebagainya dilakukan dengan kerja sama lintas profesi dan lintas departemen. Sebagai ilustrasi, jika seorang anak didiagnosa menderita tunanetra oleh dokter (kesehatan), maka dia akan merujuk ke beberapa departemen pendukung anak tersebut yaitu bidang pendidikan terkait dengan kebutuhan apa saja yang diperlukan untuk memudahkan anak tumbuh kembang, bidang sosial terkait dengan fasilitas-fasilitas atau hak-hak yang dapat digunakan sebagai penyandang disabilitas seperti kartu penyandang disabilitas dan sebagainya.

Dalam penanganan penderita autis kerja sama lintas profesi, antara lain dokter, psikolog dan tenaga pendidik mutlak diperlukan untuk menjamin keberhasilan penanganan dan pendidikan anak-anak autis. Dokter dapat membantu untuk mengenali gejala autis secara medis seperti pemeriksaan struktur otak dan saraf, kadar logam berat di otak, rambut dan darah. Bentuk penanganan yang diberikan oleh dokter seperti obat, suplemen dan makanan.

Selanjutnya, psikolog dapat membantu guru untuk memberikan diagnosis secara perilaku serta psikotes. Psikolog juga dapat membantu guru untuk melakukan proses modifikasi perilaku dalam menangani anak autis di dalam kelas/sekolah (Ria DM, 2014). Tenaga pendidik dapat membantu guru dalam memberikan pelayanan tambahan dalam bentuk terapi, seperti terapi okupasi, terapi bermain dan lain sebagainya.

Kerja sama lintas profesi dan lintas departemen saat ini telah menjadi kebutuhan dan keniscayaan, terlebih sudah tersedianya perangkat-perangkat komunikasi yang memudahkan hal tersebut. Oleh karenanya penulis berharap bahwa kerja sama lintas sektoral ini mampu membantu dalam penanganan anak-anak berkebutuhan khusus. Diperlukan kepedulian semua elemen masyarakat untuk menangani autisme di Indonesia, termasuk di Aceh.

Bagi orang tua yang memiliki anak pengidap autis, menerima anak adalah langkah terbaik yang perlu dilakukan. Kita harus meyakini bahwa Tuhan tidak memberikan anak-anak istimewa ini kepada orang biasa, tentunya selanjutnya membangun komunitas peduli autis. Dengan komunitas ini akan terbuka peluang untuk berbagai cerita, pengalaman dan perasaan sesama orang tua yang memiliki anak autis.

Seterusnya bagi pendidik dan orang tua secara umum bahwa autis bukanlah penyakit menular, sehingga tidak perlu khawatir dengan keberadaan mereka di lingkungan sekitar kita. Perasaan simpati dan dukungan terhadap anak-anak autis, jauh lebih membantu dibandingkan dengan perasaan takut yang berlebihan. Bagi pendidik, anak-anak autis adalah anak yang luar biasa. Oleh karenanya, mereka butuh pendidik yang luar biasa juga baik dari sisi kesabaran, kreatifitas dan kemampuan mengajarnya. Dan yang paling penting adalah peran pemerintah baik lokal maupun nasional.

Issu global
PBB telah menjadikan autis sebagai issu global yang harus diselesaikan bersama baik pemerintah dan masyarakat. Kompleksitas yang dimiliki anak autis membutuhkan perhatian banyak pihak dan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Penderita autis tidak memandang status ekonomi dari orang tua. Jika anak-anak yang mengalami autis berasal dari orang tua yang mampu, mungkin mereka masih dapat menangani anak mereka. Tetapi jika orang tua mereka orang yang tidak mampu, ini tentunya akan menjadi penghambat bagaimana anak tersebut dapat mendapatkan layanan maksimal.

Sebagai ilustrasi, seperti disampaikan oleh seorang ibu yang memiliki anak autis di Jakarta, untuk mendidik anaknya mereka telah menghabiskan dana yang kurang lebih dapat membeli sebuah rumah toko. Nah, jika orang mampu secara ekonomi telah menghabiskan dana pendidikan yang sangat besar untuk mendidik anak-anak mereka, bagaimana orang tua yang tidak mampu secara ekonomi? Apakah mereka akan mengabaikan hak-hak pendidikan yang semestinya mereka dapatkan?

Peran pemerintah melalui Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan sangat diperlukan, terutama dalam hal deteksi dini, pendidikan dan jaminan sosial yang dapat mereka dapatkan sebagai penyandang disabilitas. Pemenuhan hak penyandang disabilitas adalah kewajiban negara terhadap warga negaranya. Di sebagian negara terutama negara maju, mereka telah mampu menyediakan sarana dan prasarana pendukung bagi penyandang disabilitas.

Oleh karena itu, jika Indonesia ingin menjadi negara maju, maka penuhilah hak-hak penyandang disabilitas. Penulis menganalogikan hak penyandang disabilitas sebagai utang. Artinya, orang yang memiliki moralitas baik, maka dia akan mengalokasikan pembayaran utang terlebih dulu, baru kemudian kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bukan malah sebaliknya menghitung kebutuhan lebih dulu, baru kemudian utang, maka sampai kapan pun kita tidak mampu membayar utang tersebut.

Semoga tulisan kecil ini dapat mengingatkan kita akan hari bersejarah bagi para penyandang disabilitas khususnya autis, di tengah hingar bingar kampanye Pemilu 2014 ini. Kita berharap pemerintahan ke depan baik lokal maupun nasional adalah pemerintahan yang peduli dengan penyandang disabilitas.

http://aceh.tribunnews.com/2014/04/03/mari-peduli-anak-autis

Post Author: operator.info1