Simpati untuk Peringatan “May Day”

Peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2014 di Jakarta dan daerah berlangsung aman dan tertib. Tak kurang Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, menyampaikan apresiasi kepada buruh dan serikat buruh atas perayaan May Day di seluruh Indonesia.

Peringatan Hari Buruh yang ditandai dengan hari libur nasional untuk pertama kalinya ini, sangat efektif. Sehari penuh, buruh dari berbagai aliansi, menyatakan sikap dan tuntutan tanpa harus bersinggungan dengan kepentingan publik maupun usaha karena hari libur nasional.

Sehari cukuplah untuk memperingati Hari Buruh serta menyampaikan aspirasi. Tak perlu lagi buruh dan serikat buruh kembali turun ke jalan pada hari kerja. Ribuan buruh yang turun ke jalan bakal membuat jalanan macet, baik di Jakarta maupun kota besar lainnya. Produktivitas kerja bakal terganggu.

Suara buruh sudah diperdengarkan pada 1 Mei. Buruh yang menggelar aksi di depan Istana telah membacakan 10 tuntutan buruh. Tuntutan itu antara lain, penaikan upah minimum 30 persen pada 2015 dan revisi KHL menjadi 84 item, penghapusan alih daya khususnya di BUMN, transportasi publik dan perumahan murah untuk buruh, serta menjalankan wajib belajar 12 tahun dan beasiswa untuk anak buruh hingga perguruan tinggi.

Agenda tersebut baiknya diupayakan terwujud bukan hanya dalam bentuk turun ke jalan. Setelah diwacanakan, para elite serikat buruh mencari jalan dengan membuka pembicaraan dengan kalangan pengusaha dan pemerintah. Pembicaraan bukan semata-mata agar agenda atau tuntutan buruh itu 100 persen digolkan, melainkan untuk mencari solusi atau jalan tengah. Jalan untuk mendapatkan apa yang terbaik bagi buruh dan kehidupan seluruh bangsa tidak hanya dengan turun ke jalan.

Pengalaman-pengalaman sebelumnya telah memberi kesan bahwa buruh adalah bagian yang terpisah dari masyarakat. Aksi anarkistis, sweeping sesama buruh, perusakan fasilitas umum, blokade akses publik, selain yang rutin membuat kemacetan ketika aksi, menempatkan buruh seperti kelompok yang hanya merongrong.

Padahal, kita tahu kenyataannya hidup buruh memprihatinkan. Upah buruh Indonesia rata-rata tertinggi Rp 2,4 juta, di bawah Thailand yang sekitar Rp 3,2 juta, atau Filipina yang sekitar Rp 3,6 juta. Kesenjangan semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Gini ratio atau angka kesenjangan makin besar, dari 0,39 menjadi menjadi 0,1. Artinya pertumbuhan ekonomi tidak terdistribusi ke golongan menengah ke bawah dan hanya dinikmati golongan menengah ke atas.

Namun kondisi seperti itu harus disuarakan dengan santun dan tepat sasaran. Buruh mendapatkan tujuannya, sementara masyarakat tidak dirugikan. Bila demikian yang terjadi, niscaya simpatik publik terhadap perjuangan buruh pun tumbuh.

Kita mengapresiasi kolompok-kelompok buruh yang memperingati May Day dengan cara yang jauh dari gambaran gerakan buruh selama ini. Di sejumlah tempat, buruh menggelar aksi sosial seperti donor darah, panggung rakyat, sunatan massal, pembagian sembako, dan lain-lain.

Di tahun politik–di mana pemilihan umum berlangsung–para buruh bukan menambah keruh suasana. Aksi sosial para buruh telah memberikan angin sejuk di antara hiruk-pikuk politik. Momentum peringatan Hari Buruh telah dimanfaatkan dengan baik. Hal yang sama bisa diperluas dengan membangun kebersamaan hubungan industrial antara pengusaha dengan pekerja/buruh.

Kita selalu menyuarakan bahwa buruh harus probisnis. Bisnis yang berjalan baik akan menguntungkan buruh. Hubungan yang baik antara pengusaha dan pekerja berdampak positif bagi kesejahteraan bersama. Selain tuntutan akan peningkatan kesejahteraan, alangkah ideal buruh dan serikat buruh juga menyuarakan upaya peningkatan produktivitas. Selain hak, kewajiban perlu juga ditekankan kepada para buruh. Produktivitas pekerja kita masih rendah. Dibanding Tiongkok, Indonesia hanya seperempatnya. Selain produktivitas, masih perlu peningkatan keterampilan dan etos kerja.

Langkah pemerintah menentukan hari libur nasional untuk Hari Buruh adalah langkah tepat dan probisnis. Buruh mendapat kesempatan pada hari itu untuk menyuarakan aspirasi, tentu dengan cara yang elegan. Dunia usaha tidak terganggu. Selain ruangan waktu yang telah diberikan kepada buruh, pemerintah daerah, seperti Pemprov DKI Jakarta juga sebaiknya menyediakan lokasi di mana elemen masyarakat, dalam hal ini buruh, akan menyalurkan aspirasinya dengan berunjuk rasa.

http://www.beritasatu.com/blog/tajuk/3356-simpati-untuk-peringatan-may-day.html

Post Author: operator.info1