PERLINDUNGAN ANAK

Perlindungan anak mendapat perhatian khusus dalam suatu krisis kemanusiaan dan keadaan darurat. Anak-anak memiliki hak untuk diakui dalam hukum internasional yang pertama diadopsi oleh PBB. Seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948, dan instrumen-instrumen regional seperti Deklarasi Amerika tentang hak-hak dan kewajiban Manusia yang dibuat pada tahun yang sama-mengakui secara umum hak manusia untuk bebas dari kekerasan, abuse dan eksploitasi.

Salah satu hak anak yang tercantum dalam Konvensi Hak-hak Anak PBB tahun 1989 pasal 8 adalah: Menghormati hak anak untuk memelihara jati dirinya, termasuk kebangsaan. Konvensi Hak Anak, dalam beberapa hal meningkatkan standar internasional mengenai hak-hak anak. Konvensi ini menjelaskan dan secara hukum mengikat beberapa hak-hak anak yang dicantumkan pada instrumen sebelumnya. Konvensi ini memuat ketentuan baru yang berkaitan dengan anak, misalnya berkenaan dengan hak untuk berpartisipasi dan prinsip bahwa dalam semua keputusan yang menyangkut anak, kepentingan terbaik bagi anak harus diutamakan. Konvensi ini untuk pertama kalinya membentuk suatu badan internasional yang bertanggung jawab untuk mengawasi penghormatan atas hak anak, yakni Komite Hak-hak Anak (Committee on the Rights of the Child).

Sebagai salah satu negara penandatangan konvensi, Indonesia harus memenuhi hal ini. Anak-anak Indonesia harus diakui statusnya sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki hak akan identitas, berpartisipasi, dan berperan dalam pembangunan.

Di Indonesia, hari anak yang sudah diadakan selama 24 tahun, sejak dicanangkan oleh Presiden Suharto tahun 1986, berdasarkan Keputusan Presiden RI No.44/1984 tentang Hari Anak Nasional, ternyata belum banyak memberikan dampak yang besar untuk anak Indonesia. Perayaan Hari Anak Nasional perlu dimaknai lebih dalam, memang tidak otomatis akan mengubah kondisi yang buruk menjadi baik, karena tentu saja hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Perayaan Hari Anak Nasional harus menjadi momentum sebuah gerakan peduli terhadap anak Indonesia. Sebuah gerakan yang membangun kesadaran dan kepedulian bangsa Indonesia untuk memperhatikan, mencintai, dan mengasihi anak dengan sungguh-sungguh.

a) Banyak anak tidak tahu, kalau tanggal 23 Juli adalah Hari Anak Nasional. Jangankan Hari Anak Nasional, hari ulang tahunnya saja banyak yang tidak tahu, karena banyak yang tidak memiliki indentitas/akte kelahiran.

b) Kompas, 17 Desember 2009, memuat berita dari 70,5 juta anak Indonesia, 17,7 juta (25%) dalam kondisi terlantar dan hampir terlantar. Pemerintah sebagai “Orang tua” dari anak-anak Indonesia baru bisa menangani 4% dari 17,7 juta (1 juta anak) per tahunnya.

c) Banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, mereka mengalami kekerasan fisik di keluarga, sekolah dan tempat-tempat umum. Bahkan rumah yang seharusnya memberikan rasa aman dan tempat berlindung, sekarang sudah tidak aman lagi dengan banyaknya “bom” kompor tabung gas 3 kg yang meledak.

d) “Orang tua” (baca: Negara) mengambil hak anaknya sendiri, anak dieksploitasi untuk menghidupi keluarga, penghasilan “Orang tua” tidak digunakan untuk membesarkan dan mendidik anak, tetapi dikorupsi dan difoya-foyakan.

Post Author: operator.info1