Anak Aceh dan Sumut Susun Handbook Monitoring Hak Anak

Perwakilan Kelompok Anak Sambirejo Timur, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Erik dan Joko, memaparkan hasil monitoring hak anak yang terjadi di wilayah mereka dalam kegiatan Workshop Penyusunan Handbook Untuk Monitoring Pemenuhan Hak Anak.

APAKAH MONITORING HAK ANAK ITU? Ini analogi sederhana. Bayangkan sekarang kita berada di jalan raya. Di sana ada kendaraan, ada jalan, ada rambu-rambu lalu lintas, dan tentu saja ada polisi.

Nah, kendaraan kita ibaratkan sebagai kewajiban negara terhadap pemenuhan hak anak, bagaimana ia bergerak dari satu kota ke kota tujuan, dalam hal ini tujuannya adalah pemenuhan hak anak. Rambu-rambu dan jalan adalah aturan bagaimana hak anak itu dipenuhi, dihormati, dan dipromosikan, dalam hal ini adalah kebijakan-kebijakan; Konvensi Hak Anak, Undang-undang, dan lain-lain. Polisi adalah pemantau, pemonitoring, yang menyatakan benar atau salahnya apa yang dilakukan negara dalam pemenuhan hak anak, mungkin dalam hal ini adalah Komite Anak PBB, yang memastikan sejauh mana kewajiban negara sudah dijalankan.

Dalam konteks ini anak, sebagai pemegang hak, juga berhak melakukan monitoring, sebagai bagian dari hak partisipasi (respect for the view of the child) yang dijamin oleh Konvensi Hak Anak (KHA) dan juga oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. Hasil monitoring ini bisa disampaikan ke Negara dan Komite Hak Anak, sebagai bahan yang bisa dipertimbangkan tentang apa saja yang sudah dilakukan, apa saja yang belum, dan termasuk apa saja yang dilanggar, demi pemenuhan hak anak ke depan yang lebih baik.

Inilah analogi yang digambarkan Maman Natawijaya, fasilitator dalam menghantarkan kegiatan Workshop Penyusunan Handbook Untuk Monitoring Pemenuhan Hak Anak di Sekretariat Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP), Jalan Stella III, No. 88 Medan, Jumat (27/03/2015). Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang anak yang merupakan perwakilan dari Aceh, yakni Children Media Center (CMC) dan anak-anak dari Sumatera Utara yakni dari GEMMA, P3MN, Taman Baca MEKKAR, Taman Baca Palapa, Forum Anak Sambi Rejo Timur, Forum Anak Tebing Tinggi. Selain Maman Natawijaya, kegiatan ini juga difasilitasi oleh Nurhamidah.

“Kalau dalam bahasa kerennya monitoring itu bisa dikatakan sebuah proses pengumpulan dan analisa informasi secara sistematis dan berkesinambungan tentang kemajuan sebuah pekerjaan, dalam hal ini KHA, dari waktu ke waktu,” papar Maman Nawawijaya kepada para peserta kegiatan.

Dalam workshop ini anak-anak yang sebelumnya pernah terlibat dalam melakukan monitoring hak anak bersama komunitasnya di daerahnya masing-masing untuk disampaikan kepada Komite Hak Anak PBB akan menuliskan pengalamannya, terutama langkah-langkah apa yang harus dilakukan ketika anak melakukan proses monitoring hak anak.

“Kita berharap pengalaman yang mereka dapat selama ini, dalam proses pemantauan hak anak bisa menjadi buku sehingga bisa menjadi pembelajaran baik dan pegangan bagi siapa saja,” ujar Maman Natawijaya di sela-sela kegiatan, ketika dimintai keterangannya.

Maman menambahkan monitoring yang dimaksud di sini tidak sebagaimana monitoring yang dilakukan oleh orang dewasa, tidak memerlukan analisa atau data statistik yang mendalam, juga melibatkan banyak pihak, mulai dari anak-anak hingga dewasa, dan fokus pada isu-isu tertentu yang ada dalam konvensi, sesuai dengan daerah asal anak masing-masing.

Hamsah Pohan, salah seorang peserta dari Forum Anak Tebing Tinggi menyatakan sangat antusias mengikuti kegiatan ini, karena pengalamannya selama ini bisa dibukukan.

“Ya, dengan kegiatan ini pengalaman kami selama ini dalam proses monitoring hak anak tidak menguap begitu saja, dan bisa juga menjadi pegangan bagi anak-anak lain yang mau berpartisipasi dalam memantau hak anak,” ujarnya. [js]

http://kksp.or.id/home/2015/04/01/anak-aceh-dan-sumut-susun-handbook-monitoring-hak-anak/

Post Author: operator.info1